MELAYU DALAM HIKAYAT

Friday, December 23, 2011
Oleh Andi Nur Aminah

Kitab Salalatus Salatin adalah karya sastra pertama tentang Melayu yang ditulis pujangga dari Melayu.

“Tuanlah yang Menyebut Diri, Fakir”

Wahai Tuan,

Kami malu karena merasa disindir,

Kami belum berbuat apa-apa untuk Tuan.

Sudah ratus tahun Tuan dilupakan,

Kami malu, Tuan.

Kini izinkan kami rebah di pangkuan

Tuan,

Dengan mata basah mengenang Tuan.

Bait-bait puisi berjudul “Tuanlah yang Menyebut Diri, Fakir” meluncur dari mulut LK Ara, penyair terkenal dari tanah rencong. Puisi yang dibuat spontan oleh LK Ara itu dibacakan saat malam penutupan rangkaian “Seminar Ketokohan Tun Sri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa” di Bireuen, belum lama ini.


Khidmat bait-bait puisi yang dibacakan itu membuat suasana di ruangan menjadi senyap. Seolah tersihir dibawa ke lorong waktu lebih dari tiga abad silam, saat Tun Sri Lanang atau Tun Muhammad masih memimpin kerajaan di Samalanga, Aceh. Gurat wajah bahagia juga haru terlihat pada wajah-wajah para keturunan Tun Sri Lanang yang hadir. Pocut Haslinda, pewaris kedelapan tokoh ini, tak kuasa menyembunyikan genangan air bening di kelopak matanya.


Berapa besar kebahagiaan Haslinda tak bisa ditakar. Yang pasti, tujuh tahun lamanya perjuangan dan usahanya menghimpun jejak peninggalan leluhurnya, Tun Sri Lanang, sudah usai. Kini, lima buah buku tentang Tun Sri Lanang sudah rampung. Masing-masing Tun Sri Lanang dalam Sejarah Dua Bangsa Indonesia-Malaysia; Terungkap Setelah 380 Tahun; Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh Hubungannya dengan Raja-Raja Islam Melayu Nusantara; Perempuan yang Bercahaya dalam Lintasan Sejarah Aceh; dan Sulalatus Salatin Sejarah Melayu Versi Populer.


“Tujuh tahun saya sedikit menelantarkan keluarga, anak-anak, dan cucucucu saya. Saya minta maaf. Setelah ini, saya akan bayar waktu saya yang hilang bersama kalian,” ujar Haslinda disambut tepuk tangan undangan yang hadir di Pendopo Gubernuran, Banda Aceh.


Seminar yang dilaksanakan di Kabupaten Bireuen, tak jauh dari wilayah be kas Kerajaan Samalanga, di mana Tun Sri Lanang menjadi raja pertama kali di sana, telah mengungkapkan banyak hal. Seminar dihadiri sedikit 400 peserta yang berasal dari Indonesia, Malaysia, juga Singapura.


Dari seminar tersebut, lahir tiga rekomendasi yang menyebutkan ketokohan Tun Sri Lanang perlu diinternalisasikan melalui upaya kongkret yang didukung pemda dan pusat serta bangsa serumpun di Asia Tenggara, kawasan situs Tun Sri Lanang sebagai kawasan wisata sejarah Melayu Nusantara di Samalanga, akan segera diwujudkan, serta memasukkan ketokohan Tun Sri Lanang dalam kurikulum muatan lokal sekolah-sekolah di Aceh.


Dalam seminar itu pun terungkap, selain penasihat kesultanan di masa tiga sultan yang memerintah di Aceh, Tun Sri Lanang juga seorang pujangga agung Melayu yang menulis kitab Sulalatus Salatin. Kitab tersebut bisa menjadi acuan penulisan sejarah, khususnya Melayu, pada masa kini dan yang akan datang.


Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah, Dien Madjid, mengatakan, kisah Tun Sri Lanang selama ini memang gaungnya lebih terdengar di negeri jiran Malaysia melalui kitab Sulalatus Salatinnya. Bahkan karyanya itu, kata Dien, jadi rujukan dalam tata pemerintahan di Malaysia. Gelar bendahara di dalam sejarah Melayu tidak hanya bermakna ‘pemegang harta negara’, akan tetapi lebih multifungsi.


Sulalatus Salatin di Malaysia juga telah diajarkan kepada murid-murid dari tingkat SD hingga SMA. Kendati figur ini memang sudah lebih dikenal di Malaysia, Dien mengatakan, beberapa sejarawan Malaysia banyak yang meragukan kebe radaan Tun Sri Lanang. “Walaupun na ma nya santer terdengar, tapi dianggap tak lebih dari dongeng ataupun legenda,” kata Dien.


Padahal, melihat rekam jejaknya, baik yang ada di Batu Sawar (Malaysia) maupun Samalanga (Indonesia), dan peninggalan arkeologis yang tersisa, itu sudah cukup meyakinkan bahwa Tun Sri Lanang adalah sosok yang nyata. Sementara di Aceh, peran Tun Sri Lanang dalam sejarah Aceh terkesan dalam ‘golongan strata kedua’.


Masyarakat Aceh umumnya mengenal Sultan Iskandar Muda yang menjadi ikon historis Aceh. “Ini bisa dimaklumi karena belum banyak ahli sejarah negeri ini yang mengkaji kiprah Tun Sri Lanang lebih mendalam,” ujarnya.


Dien mengatakan, sebagai penasihat raja, pasti yang lebih dikenal adalah rajanya. Meskipun, pola pikir yang disampaikan sang raja bisa datang dari penasihatnya. Karena itu, dalam seminar tersebut Dien sepakat untuk mengungkap kele bihan-kelebihan pemikiran Tun Sri Lanang sehingga akan terlihat keterlibatannya sebagai bagian dari sejarah Aceh.


Pujangga Melayu

Kitab Salalatus Salatin menjadi kitab yang istimewa karena merupakan kitab pertama yang berisikan sejarah kerajaankerajaan Melayu yang ditulis seorang pujangga Melayu. Oman Fathurrahman, ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, mengatakan bahwa karya Tun Sri Lanang itu merupakan suatu kebesaran karya sastra Melayu yang melampaui zamannya.


Menurut ahli filologi manuskrip Islam ini, Tun Sri Lanang memang tidak dikenal memiliki karya sastra Melayu lain selain Sulalatus Salatin (Perteturunan Raja-Raja). Meski hanya ada satu, karyanya sangat fenomenal. Teks ini mampu hidup berabad-abad lamanya melampaui kebesaran zamannya, bahkan pengarangnya sendiri, ujar Oman.


Dalam konteks sejarah kesusastraan Melayu klasik, Sulalatus Salatin merupakan teks Melayu terpenting yang berhasil memikat dan menyita perhatian sejumlah ahli. Dalam makalahnya, Oman memaparkan tanggapan sejumlah ahli tentang kitab ini.


Hooykaas misalnya, menyebutkan bahwa kitab tersebut mampu melukiskan sesuatu hal dengan cara yang sederhana sekali dan isinya sangat indah. Mereka pun membuat terjemahan dan daftar isi cerita-cerita itu.


Teuku Iskandar, yang menulis buku Kesusastraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, menyebutkan bahwa semua kisah dalam Sulalatus Salatin seperti persiapan perang sebelum Portugis menyerang, peristiwa pertempurannya, pengunduran Sultan ke Muar dan Pahang, diceritakan begitu hidup. Seakan-akan penulisnya hadir menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri peristiwa-peristiwa itu.


Sejumlah buku, artikel, dan berbagai edisi teks kitab ini pernah ditulis dan diterbitkan dalam kurun waktu hampir dua abad. Sarjana paling awal yang menulis tentang kitab ini, menurut Oman, adalah John Leyden dengan Malay Annals pada 1821. Beberapa buku sejarah Melayu kemudian menyusul diterbitkan.


Publikasi tentang Salalatus Salatin pernah ditulis Henri Chambert-Loir, yang mencoba melihat kitab tersebut sebagai emitos politik Melayuf. Chamber-Loir menilai, kitab tersebut tak sekadar teks yang merekam dan menggambarkan peristiwa masa lalu, tapi juga merupakan kumpulan motif yang dapat dianggap sebagai mitos politik Melayu yang secara sadar digunakan untuk menonjolkan sebuah visi sejarah tertentu.


Menurut Oman, banyaknya perhatian para ahli terhadap kitab Salalatus Salatin tidak mengherankan. Itu karena karya tersebut merupakan sumber tertulis langka yang menjelaskan Kesultanan Melayu di Malaka abad ke-15.


Kitab Sulalatus Salatin ditulis dalam bahasa Arab gundul atau bahasa Jawi. Menurut Pocut Haslinda Muda Dalam Azwar, naskah aslinya menyebar di berbagai negara. Salah satunya disimpan di museum naskah-naskah kuno di Leiden. Kitab tersebut telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa.


Salah satu kitab Sulalatus Salatin versi populer yang ditulis oleh Haslinda, di situ tertulis 34 kisah tentang kerajaan-kerajaan Melayu. Kisah tentang kekuatan raja-raja Melayu zaman dahulu saat merebut wilayah dan memperluas kekuasaannya dapat ditemukan dalam kisah seperti Majapahit menyerang Tumasik, Raja Samudra diculik Raja Siam, Singapura ditaklukkan Majapahit, dan Raja Iskandar mendirikan Malaka.


Ada pula kisah-kisah romatis saat para raja-raja Melayu yang menembakkan panah asmaranya pada putri-putri raja. Seperti Petualangan Cinta Sultan Mahmud Syah, Hang Nadim menculik si cantik Tun Teja dari Istana Pahang, Sultan Mahmud meminang Putri Gunung Ledang, atau Pangeran Campa menikah dengan Putri Majapahit.


Yang tak kalah menariknya, dalam Sulalatus Salatin terdapat kisah sejarah Singapura, yang selama ini hanya dikenal me lalui sejarah Singapura modern pada masa kepemimpinan Thomas Stamford Raffles.


Menurut Djamal Tukimin, budayawan Singapura yang pada 2007 lalu mendapat Anugerah Kesusastraan Tun Sri Lanang, dalam kitab Sulalatus Salatin, Singapura yang dikenal saat ini dulunya bernama Temasek. Negeri tersebut pertama kali dibagun oleh Seri Teri Buana.


Penemuan Temasek yang akhirnya berubah nama menjadi Singapura, menurut Djamal, kerap dilakonkan dalam ber bagai bentuk pertunjukan, sandiwara, ataupun pantomim di Singapura. Hal ter sebut menyatakan bahwa sejarah awal Singapura itu menunjukkan kekuasaan Melayu juga pernah kokoh di wilayah ini.



Rumah peninggalan Tun Sri Lanang di Samalanga, Bireuen, Aceh

0 komentar:

Post a Comment

 
 
 
 
Copyright © Dari Sini Dimulai