Inkubator Bayi

Wednesday, May 28, 2014
Dalam proses persalinan, bayi yang dilahirkan dengan bobot yang rendah disebut dengan bayi prematur. Ketika masih dalam kandungan, bayi prematur hidup dalam perut ibunya dengan temperatur yang sama dengan temperatur tubuh ibunya (36-37oC).

Ketika baru dilahirkan, bayi prematur belum dapat menyesuaikan diri terhadap temperatur di luar lingkungan perut ibunya. Oleh sebab itu bayi prematur harus dibantu untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang baru dengan meletakkannya ke dalam inkubator. Inkubator bayi menurunkan suhu secara perlahan sehingga dapat membuat bayi merasa nyaman. Saat ini inkubator bayi yang ada di pasaran umumnya memiliki harga yang relatif mahal. 

Hal ini disebabkan karena sebagian besar inkubator yang ada merupakan produk impor. Oleh sebab itu, Prof. Dr. Ir. Raldi Artono Koestoer, DEA dari Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia mencoba untuk mengembangkan dan membuat inkubator bayi dengan harga yang lebih terjangkau namun tetap berkualitas tinggi.

Pengembangan inkubator bayi ini berawal saat Prof. Raldi mengunjungi rumah kakaknya pada tahun 1989. Ketika itu kakaknya membawa sebuah inkubator bayi yang telah rusak. Mulailah Prof. Raldi mempelajari kerusakan-kerusakan pada inkubator tersebut. Kemudian kakaknya berkata, “Kenapa tidak kamu saja yang membuat inkubator ini?” Dan dari sanalah Prof. Raldi mulai berfikir untuk mengembangkan inkubator bayi. 
 
Prof. Raldi dan inkubator Karyanya
Setelah menjalani berbagai macam penelitian, akhirnya pada tahun 2002 inkubator bayi tersebut selesai dibuat. Selanjutnya, inkubator ini memasuki proses pabrikasi sehingga inovasinya terus berkembang dengan pesat. Permintaan akan inkubator ini pun semakin banyak sehingga SDM-nya terus berkembang, terciptanya lapangan kerja, dan menambah pengetahuan karena selalu berusaha untuk berinovasi.

Untuk membuat lingkungan yang nyaman bagi bayi prematur, suhu di dalam inkubator diturunkan secara perlahan. Misalnya, temperatur awal di lingkungan sekitar adalah 36-37oC, maka inkubator tersebut diatur temperaturnya menjadi 33-34oC. Panas di inkubator ini berasal dari heater yang diletakkan dibawah inkubator, yang kemudian dialirkan ke atas menggunakan fan. Temperatur di dalam inkubator tersebut akan tetap bertahan sesuai dengan setting-an awal karena proses pengaturannya bekerja secara otomatis. Misalnya, jika temperatur yang diinginkan adalah 34oC, maka jika sudah naik mencapai 34oC heater-nya akan otomatis mati. Dan ketika temperaturnya sudah turun menjadi 33oC, maka heater-nya akan menyala lagi.

Pada dasarnya inkubator produk dalam dan luar negeri prinsip kerjanya sama saja. Yang membedakannya adalah desainnya, pintunya, engselnya, dan heater-nya. Kelebihan inkubator buatan Prof. Raldi ini adalah hemat energi. Sedangkan inkubator buatan luar negeri memiliki watt yang tinggi, sehingga membutuhkan energi listrik yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena di luar negeri, mereka menghadapi temperatur yang rendah. Sehingga membutuhkan energi yang besar untuk menaikan temperatur. Sedangkan di Indonesia temperaturnya sekitar 28-29oC, sehingga tidak memerlukan energi yang terlalu besar untuk menaikan temperatur.

 

Foto : ET
Penulis : Indah Sari Dewi

sumber : http://engineeringtown.com/teenagers/index.php/karya-teknologi-bangsa/38-inkubator-bayi.html

2 komentar:

Web Development said...

Amazing blog and very interesting stuff you got here! I definitely learned a lot from reading through some of your earlier posts as well and decided to drop a comment on this one!

That is an extremely smart written article. I will be sure to bookmark it and return to learn extra of your useful information. Thank you for the post. I will certainly return.

Post a Comment

 
 
 
 
Copyright © Dari Sini Dimulai